Monday, November 18, 2013

Intelijen Inggris Monitor Pemesanan Hotel Diplomat




TEMPO.CO, Berlin -  Badan intelijen Inggris, British Government Communications Headquarters (GCHQ) tak hanya memonitor percakapan para diplomat dan kepala negara saat mengikuti sebuah pertemuan internasional. GCHQ juga memonitor diplomat sejak mereka melakukan pemesanan hotel.
Informasi ini terdapat dalam dokumen yang dibocorkan eks analis badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA), Edward Snowden, yang dipublikasikan di media Jerman, Spiegel, edisi 17 November 2013.
Dokumen Snowden itu menunjukkan bahwa selama lebih dari tiga tahun GCHQ memiliki sistem untuk secara otomatis memonitor pemesanan kamar hotel, minimal di 350 hotel kelas atas di seluruh dunia, untuk mendeteksi diplomat dan pejabat pemerintah.
Program rahasia ini bernama "Royal Concierge", logonya menunjukkan seekor penguin mengenakan mahkota, jubah ungu dan memegang tongkat. Logo penguin itu tampaknya dimaksudkan untuk melambangkan seragam hitam dan putih yang umumnya dikenakan staf di hotel mewah.
Tujuan dari program ini adalah untuk menginformasikan GCHQ, pada saat pemesanan, tentang kota dan hotel diplomat yang hendak dikunjungi. Hal ini memungkinkan "komunitas operasional teknis" untuk membuat persiapan yang diperlukan secara tepat waktu.
Dokumen ini juga seperti meragukan kebenaran klaim yang dibuat pekan lalu oleh kepala tiga lembaga intelijen Inggris. Kepada Komite Parlemen Inggris, ketiganya mengatakan bahwa tujuan penyadapan mereka adalah untuk kebutuhan perang melawan terorisme dan untuk memastikan mereka dapat memantau posting terbaru Al-Qaeda dan afiliasinya.
Dokumen-dokumen Snowden itu menunjukkan bahwa prototipe dari "Royal Concierge" pertama kali diuji pada tahun 2010. Program ini banyak dipuji dan disebut sebagai "inovasi", sehingga pengembangannya diteruskan.
Dokumen itu memberikan rincian tentang bagaimana program badan intelijen Inggris untuk melacak diplomat internasional ini berfungsi. Setiap kali konfirmasi reservasi diemail ke alamat yang mencolok di dalam domain pemerintah (seperti gov.xx ) dari salah satu dari 350 hotel di seluruh dunia yang sedang dipantau, ada peringatan yang dikirim ke analis GCHQ.
Dalam dokumen-dokumen yang dilihat oleh media Jerman Spiegel, memang tidak menyertakan nama hotel. Tapi dokumen itu menyebutkan hotel anonim di Zurich dan Singapura sebagai contohnya.
Dokumen selanjutnya menyatakan hal lain yang bisa dilakukan di tempat diplomat menginap. Di antaranya, penyadapan telepon, mesin fax serta pemantauan komputer yang terhubung ke jaringan hotel. "Serangan Teknis" juga ditempatkan oleh tim "TECA" Inggris untuk tamu yang menjadi sasaran khusus.
Para tamu itu, tentu saja, tidak memiliki petunjuk tentang adanya persiapan teknis canggih yang dibuat untuk kunjungan mereka. Dalam kasus "target sulit pemerintah," informasi yang diperoleh melalui "Royal Concierge" juga dapat melibatkan operasi "HUMINT" --singkatan dari "Human Intelligence-(intelijen manusia)". Dengan kata lain, ada pengiriman mata-mata manusia yang mungkin akan mendengarkan pembicaraan seorang diplomat itu di bar hotel .
Dokumen-dokumen yang dilihat oleh Spiegel tidak menyatakan seberapa sering program tersebut telah digunakan, tetapi menunjukkan bahwa ini terus dikembangkan.
Dihubungi oleh Spiegel, GCHQ mengatakan "tidak mengkonfirmasi atau membantah tuduhan itu."

Spiegel | Abdul Manan

No comments:

Post a Comment